• SEBAB-SEBAB ISIM DIROPAKAN

    Ilmu nahwu berbeda dari ilmu-ilmu ke-Arab-an yang lain dari sisi bahwa ia adalah dasar dari sebuah pemahaman atau interpretasi terhadap kalimat-kalimat baik dalam Al-Qur’an atupun Al-hadits juga menjaga otentisitas lisan (bahasa) orang Arab secara umum dan Al-Qur’an secara khusus. Kita harus menjaga Al-Qur’an yang tentangnya Allah berfirman,”Sesungguhnya Kami telah menurunkan Peringatan (Al-Qur’an) dan sesungguhnya Kami pulalah yang akan menjaganya”.

    Baiklah dalam hal ini Insya Alloh akan membahas tentang sebab-sebab dalam kalimat isim diropakan(المرفوعات من الأسماء).
    A
    da beberapa pendapat dalam asal muasal isim dirofakan diantaranya menurut Imam sibaweh asal isim diropakan adalah Mubtada sebab ada diawal kalimat sedangkan menurut sebagian ‘ulama (قيل)adalah fa’il sebab ‘amilnya berupa ‘amil lafdzi tidak seperti mubtada dengan ‘amil ma’nawi (ibtida). Diantara  sebab-sebab isim diropakan, yaitu:

    1.  Jadi fa’il (subjek), fa’il menurut lughot adalah orang yang mengerjakan suatu pekerjaan/predikat (من أوجد الفعل), sedangkan menurut istilah kalimah isim (kata benda) yang disandarkan terhadap fiil(pekerjaan) contoh ختم الله kalimat الله dirofakan sebab menempati tempat fa’il yang dirofakan oleh fiil (ختم ) ataupun sibhu al-fi’li (yang menyerupai fiil) yakni isim yang na’wil terhadap fiil yakni isim fa’il, isim maf’ul ‘sifat musyabahat atau isim tafdhil(sifat Shorihah) sehingga fa’il berada setelah fiil atau setelah sifat shorihah tersebut .
    Seperti contoh مختلف ألوانه , kalimat ألوانه dirofakan sebab menempati tempat fa’il yang dirofakan oleh isim fa’il مختلف sehingga fa’il berada setelah fiil.
    2.    Jadi Naib Al-Fa’il (نائب الفاعل), yaitu yang menggantikan fa’il (subjek) atau maf’ul (Objek) menjadi fa’il (subjek) dalam istilah bahasa indonesia dikenal dengan “kalimat Pasif” seperti contoh: أنزل الله إليك  menjadi أنزل اليك
    Sebagaimana Ibnu Malik dalam Kitabnya Al-fiyah:
    ينوب المفعول به عن فاعل * فيما له كنيل خير نائل                 
    3.  Jadi Mubtada khobar, mubtada adalah kalimat isim yang keberadaannya diawal kalimat berarti mubtada kosong dari ‘amil-amil lafdzhi yang ghoer jaidah (bukan ‘amil yang sifatnya penambah seperti haraf jar) jadi mubtada dirofakan dengan ‘amil ma’nawi yaitu ibtida (berada diawal kalimat) seperti Contoh الحمد لله  kalimat الحمد dirofakan sebab menempati tempat mubtada/berada diawal kalimat sedangkan لله jadi khobar. Ada juga jadi mubtadanya yang dita’wil dari masdariyah seperti contoh وأن تصوم خير لكم  dita’wil jadi صومكم خير لكم   .
    4.  ‘amil nawasih/’amil lafdhi, yaitu :
    1)    كان وأخواتها        4)    أفعال المقاربة
    2)     إن وأخواتها        5)الحروف المشبهات باليس    
    3)     ظن وأخواتها       6) لا التى لنفى الجنس
    ‘amil nawasih adalah ‘amil lafdhi yang merubah terhadap mubtada khobar baik dari segi penempatannya ataupun I’robnya. Seperti halnya dalam :
    - كان وأخواتها apabila masuk terhadap mubtada khobar maka akan merubah baik penempatannya yaitu mubtada jadi isimnya dan khobar menjadi khobarnya bukan lagi khobar dari mubtada ataupun I’robnya yaitu isimnya diropakan bukan lagi menempati diawal kalimat yang jadi mubtada lagi tetapi diperintah oleh ‘amil nawasih tersebut (كان)dan khobarnya dinasabkan, sebagaimana dalam kitab Alfiyah Ibnu Malik
    ترفع كان مبتداء اسما والخبر * تنصيبه ككان سيدا عمر                     
    -   إن وأخواتها sedangkan inna dalam amalnya kebalikan dari kana(كان), yaitu isimnya dinasabkan dan khobarnya dirofakan seperti contohإن الله عليم   
    Sebagaimana Ibnu Malik dalam Kitabnya Al-fiyah:
    لإن أن ليت لكن لعل * كأن عكس ما لكان من عمل           
    Ada beberapa akhwatnya inna diantaranya : Ma’na Inna dan anna (أنّ) adalah litaokid (لتوكيد) yakni untuk menegaskan perkataan
    كأن  , yang ma’nanya للتشبيه المؤكد (menyerupai sesuatu dengan sebenar-benarnya.
    Contohnya كأن زيد أشد
    -  ظن وأخواتها , amalnya dzona adalah mubtada dan khobarnya dinasabkan dikarnakan jadi maf’ulain (mubtada jadi maf’ul pertama dan khobar jadi maf’ul kedua) dengan syarat sesudah dzona mempunyai fa’ilnya (بعد إستيفاء فاعلها )
    Ada beberapa ma’na dzona dan akhwatnya,yaitu:أفعال القلوب  (ma’na yang menunjukan suatu pekerjaan  hati yaitu yakin seperti contoh وإن وجدنا أكثرهم لفاسقين  dan rujhan/mengunggulkan satu dari dua perkara) dan أفعال التصير/التحويل(yang mempunyai arti “jadi”)  seperti contoh واتخد الله إبراهيم خليلا  
    -  أفعال المقاربة yaitu suatu pekerjaan yang mempunyai arti “mendekati”, “mengharapkan”, “pelaksanaan”. Yang termasuk arti mendekati yaituكاد , كرب , أوسك  seperti contoh كاد الفقر أن يكون الكفر yang termasuk arti mengharapkan yaitu حرى , إخلولق , عسى seperti contoh إخلولقت السماء أن تمطر  . yang termasuk arti pelaksanaan yaituأنشأ , طفق, جعل , أخد, علق  seperti contoh :جعل يتكلم  
    -  لا التى لنفى الجنس , yaitu la yang mempunyai arti “menafikan/meniadakan jinis secara keseluruhan” yang amalnya sama dengan Inna. Seperti contohلا حول ولا قوة إلا بالله  , حول dinasabkan sebab jadi isimnya sedangkan khobarnya dibuang karna sudah jelas apa yang dimaksud dari yang dibuang, sebagaimana Ibnu Malik dalam kitab Alfiyahnya:وشاع فى ذالباب اسقاط الخبر * اذاالمراد سقوطه ظهر  
    5.    Isim Tabi’ (التابع )
    Yaitu isim yang I’robnya tergantung/mengikuti I’rob isim yang pertama (المتبوع). Diantara iisim yang termasuk isim tabi’, yaitu : sifat, ataf, taokid, dan badal sebagaimana Ibnu Malik dalam kitab Alfiyahnya: يتبع فى الإعراب اسماء الأول * عطف نعت و توكيد و بدل
  • You might also like

Diberdayakan oleh Blogger.