• [Liputan Eksklusif] Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Jabar, Andriana : “2010, Al-Furqon Pilot Project Marcusuar Bilingual Sentral Bahasa Inggris Di Cibiuk Kab. Garut”.


     Andriana, Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Jawa Barat. (Foto: Wishnoe Ida Noor – news.juggala.co.id)

    Garut – Al-Furqon dijadikan Pilot Project untuk menjadi sekolah yang berwawasan tidak hanya agama, tapi kemampuan kapasitas sains, kapasistas kemampuan bahasanya menjadi hal yang sangat penting, karena kata Al-Ghozali, bahwa untuk menguasai dunia, kuasai dulu alatnya yaitu bahasa, kebanyakannya adalah Bahasa disorsis utama itu Bahasa Inggris, karena Bahasa Inggris dianggap bahasa konsensus, tapi tidak menapikan bahasa Indonesia.
    Hal itu diungkapkan oleh Andriana, seorang tokoh muda dengan background pendidikan S1 di UIN Program Studi Pilsafat, S2 dan S3 Psikologi Pendidikan di UPI, sehari-hari Dosen Psikologi di Sekolah Tinggi Agama Islam Muhammadiyah dan dalam waktu dekat ini akan bergabung dengan Universitas Muhammadiyah Bandung.
    Andriana di Muhammadiyah Jawa Barat, sebagai Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah, membawahi 450 sekolah di bawah Muhammadiyah, mengakui bahwa tidak semua sekolah bagus, tapi proses pertumbuhan perkembangan Jawa Barat ini, menuju kearah berkemajuan pendidikannya walupun kalah dengan Jawa Timur dan Daerah Khusus Ibu Kota Yogyakarta.
    Terkait, Al-Furqon dijadikan Pilot Project untuk menjadi sekolah yang berwawasan tidak hanya agama, tapi kemampuan kapasitas sains, kapasistas kemampuan bahasanya menjadi hal yang sangat penting, karena kata Al-Ghozali, bahwa untuk menguasai dunia, kuasai dulu alatnya yaitu bahasa, kebanyakannya adalah Bahasa disorsis utama itu Bahasa Inggris, karena Bahasa Inggris dianggap bahasa konsensus, tapi tidak menapikan bahasa Indonesia.
    “Tetapi bagaimana dalam era globalisasi ini, dimana dunia yang dulu terbagi-bagi menjadi bagian kecil, disatukan dengan era globalisasi, sehingga menjadi satu kesatuan, dan bisa melakukan proses penerbangan dari Negara satu ke Negara lain tanpa Visa,” ujarnya.
    Suka tidak suka lanjutnya, maka lembaga pendidikan Muhammadiyah harus menjawab tantangan itu, sehingga kapasitas kemampuan bahasa menjadi hal yang sangat utama, untuk menjadi orang yang mampu berkomunikasi antar belahan bumi satu dengan yang lain, tandas Andriana.
    Menurut Andriana, kenapa harus Al-Furqon dalam Pilot Project ini, kedepan Jawa Barat itu penyangga Ibu Kota Negara, dan Kota Bandung akan menjadi kota jasa yang hampir semua orang akan datang ke Bandung, termasuk dari Malaysia, Singapura ingin tahu Bandung.
    Secara geografis imbuhnya, Al-Furqon ini tidak jauh dari Bandung, hanya memerlukan waktu 1 jam dari Al-Furqon ke Bandung, apalagi ada penyangga tol yang mempercepat laju transportasi dari kota Bandung ke Garut, sehingga Al-Furqon sangat strategis, ini akan menjadi tempat pendidikan yang nyaman, karena masih banyak sekali lahan yang bisa diperluas.

    Cep Yanto, S.Thi Bersama Andriana, Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Jawa Barat. (Foto: Wishnoe Ida Noor – news.juggala.co.id)
    Pilot Project Cibiuk ini akan menjadi sekolah rujukan yang nota benenya bahasa pengantarnya itu adalah Bahasa Inggris, bahasa Arab dan ada Tahfid Qur’an juga, sehingga tak perlu lagi memikirkan rujukan bagaimana melanjutkan ke Perguruan Tinggi Negeri di Unpad, ITB atau sudah bisa terbang ke Malaysia, Singapura, Eropa, karena kapasitas kemampuan bahasa ini mnjadi hal yang sangat utama,” jelasnya.
    Antara Andriana dan Cep Yanto, ada satu chemistry yang tidak akan ditemukan pada yang lain, ruh semangat kesepahaman, sehingga titik temunya, punya semangat, visi ke depan dan bagaimana melakukan proses perubahan cara pandang dan cara berpikir, tentang meningkatkan mutu dan kualitas SDM, untuk itulah antara dirinya dengan Cep Yanto selaku Ketua Ponpes Al-Furqon ini, sama-sama sepakat untuk mencari Inovasi sebagai terobosan di dalam meningkatkan mutu pendidikan.

    Selaku Ketua Majelis Dikdasmen Jawa Barat, Andriana menilai bahwa Al-Furqon yang nota benenya sebagai tenaga pengajar muda, punya cara pandang dan cara pikir ke depan, dan dari Majelis Jawa Barat perlu mensupoprt tenaga-tenaga muda ini, menjadi energi yang positif, sehingga pondok Al-Furqon ini diharapkan jadi penyangga pendidikan di Jawa Barat, dan kader-kader Muhammadiyah yang ingin berkiprah, bertafaqohu Fiddin, tapi juga bagamana menciptakan pendidikn yang tidak hanya berkualitas, tetapi membangun menjadi pribadi-pribadi yang berentrepreneur, karena kalau kita berbicara kapasitas diri, warga Jawa Barat ini inverior/ kurang percaya diri.

    Disinilah tempatnya di Al-Furqon ini, orang yang datang ke sini akan dirubah cara pandang, cara berpikir, budaya perilakunya akan di rubah, sehingga mereka yang keluar dari Al-Furqon itu sudah mempunyai kapasitas tidak hanya intelektual, tetapi mampu menyelesaikan persoalan-persoalan dalam hidupnya, life skill yang akan kita dorong untuk menjadikan kader-kader Muhammadiyah yang militan menuju Muhammadiyah yang berkemajuan, tandas Andriana.

    Ketika disinggung bahwa Garut adalah baro meternya politik, jika Pilot Project-nya ini bisa diimplementasikan dengan benar, boomingnya Muhammadiyah tidak hanya di Solo, Yogya, upaya-upaya yang sudah dilakukan selaku Ketua Majelis Dikdasmen Jawa Barat, menurut Andriana bahwa proses yang sudah kita jalankan, pertama adalah SDM.

    Pengelolaannya imbuh Andriana, tidak hanya manajemen, kontens kapasitas kemampuan bahasa juga kita persiapkan, kita mendatangkan tenaga-tenaga pengajar dari Pare Kediri dan kita sudah bekerja sama dengan Cambridge-Inggris, kita punya lembaga yaitu International English Boarding (IEB), akan kita datangkan bagi mereka yang ingin belajar Bahasa Inggris, dan di sentralisasikan di Al-Furqon.

    Lebih lanjut Andriana menjelaskan pada JuggalaNews, semua insfrastruktur terkait dengan SDM Tenaga Pengajar, itu sudah siap. Kemudian ini akan terjadi rekayasa sosial, karena nanti semakin banyak orang yang datang ke sini, itu proses pertumbuhan Ekonomi Mikro akan tumbuh, cara pandang dan cara berpikir komunitas di Cibiuk ini akan terbuka wawasannya, bahwa ternyata di Al-Furqon ini ada pondok Pesantren yang memang basic pengantarnya adalah Bahasa Inggris.

    “Bulan depan akan dilakukan proses penataan komplek ponpes ini lebih kepada konsep berwawasan Islami, kita tata sarana dan prasarana MCK di tata lebih bersih, kedepan tidak hanya pembangunan berbentuk fisik, tapi kultur budaya yang berperilku hidup Islami itu akan di jalankan menjadi kegiatan sehari-hari,” harapnya.

    Cep Yanto, S.Thi Bersama Andriana, Ketua Majelis Dikdasmen Muhammadiyah Jawa Barat. (Foto: Wishnoe Ida Noor – news.juggala.co.id)
    Sebetulnya menurut dia, untuk sekolah yang berkemajuan itu kita punya prototype Sekolah-sekolah bagus, di Jawa Timur ada Universitas Muhammadiyah Malang, luas lahannya 400 Ha luar biasa besar, lulusannya besar, penerimaan siswanya juga besar,disamping itu banyak sekolah-sekolah yang memang SD, SMP, SMA,MA di Jatim itu sudah putusan Muktamar.
    Kalaupun di Jawa Barat ini menggeliat, semoga diawali denga geliat proses pertumbuhan perkembangan kader-kader itu berangkat dari Al-Furqon, dan Al-Furqon ini akan jadi Mercusuar Project pendidikan Muhammadiyah di Garut.

    Selama ini sinergitas dengan Pemerintah, menurutnya, Muhammadiyah ini organisasi yang sangat mapan, karena kita punya qoidah majelis pendidikan dasar dan Muhammadiyah, bahwa pengelolaan, SMA, MA dan SMK itu infrastrukturnya baik administrasi kurikulum, penataan keuangan, dsb, oleh wilayah dan sangat bagus sekali kebijakan Pemerintah pusat memberikan otonomi kepada pemerintah pusat untuk SMA, MA dan SMK, tinggal bagaimana kita mensinergiskan antara aturan Pemerintah dengan qoidah-qoidah di Muhammadiyah yang sudah baku, “jadi tidak akan bertubrukan, malah akan menjadi kekuatan yang selaras dengan kebijakan pemerintah dan Muhammadiyah karena keduanya sudah menjadi lembaga yang selalu mendorong kebijakan pemerintah.”

    Kita punya harapan yang cukup besar, tetapi itu diselaraskan dengan kemampuan yang ada, Insya Allah, nanti tahun pertama untuk IEB akan dibuka, proses awal sekarang sedang dilakukan pelatihan dan pendidikan tentang kemampuan bahasa untuk Guru yang ada di sini, setelah Guru menguasi, akan diterapkan kepada semua siswa dan stakeholder yang ada di sini, mudah-mudahan dalam 1 tahun sudah English Area.

    Andriana menilai bahwa hal yang sangat krusial itu, adalah melakukan proses penataan manajemen sekolah dan nanti manajemennya, bahwa segala sesuatunya berbasis data, keuangan juga berbasis Perbankan, termasuk juga terkait dengan Kurikulum International yaitu Matematika, sains dan Bahasa Inggris, kedepan ketika Al-Furqon ini besar, mereka akan melihat produk, hasilnya itu seperti apa.

    “Hari ini mungkin tidak akan kelihatan, mungkin 1-2 tahun lulusan dari Al-Furqon ini, kita bisa uji kapasitas kemampuan bahasa dan berwawasan IMTAQ dan IMTEQnya, sebagaimana dicita-citakan oleh Muhammadiyah dalam hasil Muktamar, bagaimana menjadikan kader Muhammadiyah yang berkemajuan, maju dalam ilmu pengetahuan, tekhnologi, maju dalam ilmu pengetahuan agama dan kapasitas tidak hanya baca tulis Al-Qur’an tetapi nilai Qur’ani di bumingkan.
    (dwi/dwi)

    Sumber: Juggala
  • You might also like

Diberdayakan oleh Blogger.